Polisi Pakai Teknologi Ini Usut Penyebab Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur
JAKARTA, iNewsSukabumi.id – Aparat kepolisian mengandalkan teknologi canggih untuk mengungkap penyebab kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4/2026) malam. Korlantas Polri menggunakan metode Traffic Accidents Analysis (TAA) guna merekonstruksi secara detail rangkaian peristiwa yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL.
Kepala Seksi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan bahwa metode ini memungkinkan penyidik memperoleh data akurat berbasis teknologi.
“TAA digunakan untuk mengurai kronologi secara menyeluruh, sehingga setiap tahapan kejadian bisa dipetakan dengan jelas,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Dalam proses investigasi, polisi mengerahkan dua teknologi utama, yakni TAA statis dengan kamera lidar yang mampu merekam kondisi lokasi secara 360 derajat, serta TAA portable yang menyajikan visualisasi dari sudut pandang udara (helicopter view).
Berdasarkan temuan awal, kecelakaan bermula dari insiden antara KRL dan taksi listrik Green SM di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Duren Jaya, Bekasi Timur. Gangguan diduga berasal dari masalah kelistrikan pada kendaraan, yang kemudian terseret dan mengganggu jalur rel.
Situasi tersebut memicu rangkaian kejadian hingga akhirnya terjadi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang sedang berhenti.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyebut rangkaian KRL lintas Cikarang sempat tertemper kendaraan di perlintasan JPL 85, sehingga harus dievakuasi dan dijalankan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB).
Namun, dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek tidak sempat berhenti sempurna dan akhirnya bertabrakan dengan KRL lain yang tengah berhenti di peron Stasiun Bekasi Timur.
Akibat kecelakaan itu, 16 penumpang KRL meninggal dunia, sementara 90 lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis.
Melalui pemanfaatan teknologi TAA, polisi berharap dapat mengungkap penyebab pasti kecelakaan sekaligus menjadi dasar evaluasi untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Editor : Suriya Mohamad Said