Simposium Kebangsaan Umbara: Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Publik
BOGOR, iNewsSukabumi.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Bogor Raya menggelar Simposium Kebangsaan bertema "Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Publik" di Aula Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (Umbara), Selasa (30/6/2026).
Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai wujud tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa dalam membaca dinamika kebangsaan yang tengah menghadapi berbagai tantangan.
Simposium tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang dialektika untuk mengevaluasi kebijakan publik, memperkuat partisipasi demokratis, serta merumuskan perspektif kebangsaan yang berpijak pada kepentingan rakyat.
Dalam kajian yang dipaparkan, BEM Universitas Muhammadiyah Bogor Raya mengangkat enam isu strategis yang dinilai perlu menjadi perhatian bersama, yakni stabilitas ekonomi nasional, pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, kebijakan pendidikan, efektivitas pengelolaan APBN, demokrasi internal partai politik, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis.
Seluruh isu tersebut dinilai saling berkaitan dan bermuara pada tantangan besar dalam menjaga serta memperkuat kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan negara.
Sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, saya memandang kondisi tersebut harus dijawab melalui ruang-ruang dialog yang terbuka, berbasis argumentasi, data, dan semangat kebangsaan. Mahasiswa memiliki tanggung jawab historis sebagai kekuatan moral untuk memastikan arah pembangunan nasional tetap berpijak pada amanat konstitusi dan kepentingan rakyat.
Melalui Simposium Kebangsaan ini, kami berharap tercipta ruang refleksi kolektif yang mempertemukan berbagai perspektif, memperkuat literasi demokrasi, serta membangun kesadaran bahwa negara yang kuat hanya dapat diwujudkan melalui tata kelola pemerintahan yang akuntabel, partisipasi publik yang bermakna, dan keberanian seluruh elemen bangsa dalam mengawal jalannya republik.
Menarasikan ulang arah negara bukan berarti menegasikan negara. Sebaliknya, hal tersebut merupakan ikhtiar intelektual untuk memastikan bahwa perjalanan republik senantiasa berorientasi pada cita-cita para pendiri bangsa, yakni mewujudkan keadilan sosial, demokrasi konstitusional, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ketika arah tersebut mulai dipertanyakan, maka menjadi tanggung jawab bersama untuk terus mengawal, mengoreksi, dan menguatkannya melalui cara-cara yang demokratis, konstitusional, serta berkeadaban.
Editor: Suriya Mohamad Said