Dalam beberapa tahun terakhir, publik sering diajak melihat kurs sebagai indikator sentimen jangka pendek. Seolah selama fluktuasinya masih bisa dijelaskan oleh faktor global, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cara pandang seperti itu terlalu menyederhanakan masalah. Kurs yang menembus area Rp17.000 membawa pesan yang lebih dalam. Ia menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan kelemahan domestik mulai bertemu pada satu titik yang sama.
Di atas kertas, Bank Indonesia masih memiliki instrumen intervensi berlapis. BI dapat masuk melalui pasar spot, domestic non deliverable forward, intervensi offshore, pengelolaan likuiditas, sampai operasi di pasar surat berharga. Namun ketersediaan instrumen tidak otomatis berarti efektivitas tanpa batas. Justru saat intervensi makin sering diperlukan, pertanyaan tentang biaya dan keberlanjutan menjadi semakin penting.
Di sinilah masalah harus dirumuskan dengan jernih. Persoalannya bukan semata apakah BI masih mampu menahan rupiah hari ini. Persoalannya adalah apakah strategi itu dapat dipertahankan tanpa terus menggerus cadangan devisa, menaikkan biaya moneter, dan memperbesar ketidakpastian di sektor riil. Gagasan dasarnya sederhana. Rupiah yang melemah ke level saat ini harus diperlakukan sebagai alarm kebijakan, bukan ditenangkan hanya dengan narasi bahwa fundamental masih aman.
Cadangan devisa yang tampak besar, tetapi tidak lagi terasa longgar
Sering kali publik dibuat tenang oleh pernyataan bahwa cadangan devisa Indonesia masih tinggi. Memang secara nominal, posisi akhir Februari 2026 sebesar USD151,9 miliar terlihat besar. Tetapi ekonomi yang sehat tidak bisa dibaca hanya dari angka nominal. Yang harus dilihat adalah arah penurunannya, kecepatan terkikisnya, dan konteks penggunaannya.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
