Dengan asumsi APBN 2026 di level Rp16.500 per dolar AS, maka rupiah pada posisi Rp16.869 sudah lebih lemah sekitar Rp369. Secara indikatif, kondisi itu dapat memperburuk defisit APBN sekitar Rp3 triliun. Bila rupiah bertahan di sekitar Rp17.000, maka pemburukan defisit dapat mendekati Rp4 triliun. Ini bukan angka kecil. Ini adalah tambahan tekanan pada fiskal yang pada saat bersamaan harus menanggung kebutuhan perlindungan sosial, subsidi energi, belanja pangan, dan pembiayaan pembangunan.
Di sinilah kurs berubah menjadi persoalan kualitas kebijakan fiskal. Setiap rupiah pelemahan yang dibiarkan berlarut akan memperbesar biaya bunga utang, menambah beban impor energi, menekan ruang belanja produktif, dan memaksa pemerintah lebih reaktif daripada strategis. Negara pada akhirnya seperti rumah tangga yang gajinya tetap, tetapi cicilan dan kebutuhan pokoknya terus naik. Mungkin masih bisa bertahan, tetapi ruang bernapasnya makin sempit.
Inflasi yang tidak meledak, tetapi mulai merambat
Dampak pelemahan rupiah berikutnya adalah inflasi. Hubungannya tidak selalu langsung dan seketika, tetapi pasti merambat. Barang impor menjadi lebih mahal. Bahan baku industri naik. Biaya logistik dan distribusi ikut terdorong. Perusahaan kemudian menghadapi pilihan yang sulit, yakni menaikkan harga atau menahan margin keuntungan.
Tekanan itu terlihat pada dinamika harga. Inflasi tahunan Februari 2026 sudah naik ke sekitar 4,76 persen. Meski tidak seluruhnya berasal dari kurs, pelemahan rupiah jelas memperbesar risiko rambatan harga, terutama untuk komoditas dengan kandungan impor tinggi seperti energi, obat, bahan pangan tertentu, mesin, suku cadang, dan berbagai kebutuhan industri.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
