Media AS Axios melaporkan Washington menunggu tanggapan Iran atas sejumlah poin penting dalam 48 jam ke depan. Sumber yang dikutip menyebut, posisi kedua pihak saat ini merupakan titik terdekat menuju kesepakatan sejak perang pecah.
Dari sisi global, pelaku pasar juga menyoroti data Klaim Pengangguran Awal AS serta pidato para pejabat Federal Reserve. Selain itu, investor menantikan rilis data ketenagakerjaan AS periode April pada Jumat besok yang diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sementara dari dalam negeri, potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai semakin terbuka di tengah meningkatnya tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi global dan membengkaknya beban subsidi yang berpotensi melampaui asumsi APBN.
Ketegangan geopolitik global membuat harga energi bertahan tinggi dalam waktu lama. Kondisi ini juga mendorong kenaikan crack spread atau selisih harga minyak mentah dengan produk turunannya seperti BBM.
Meski pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan harga BBM bersubsidi, langkah tersebut dinilai menjadi opsi terakhir karena berisiko menekan daya beli masyarakat.
Menurut Ibrahim, di tengah keterbatasan fiskal saat ini, pemerintah perlu mempercepat deregulasi untuk menjaga keberlangsungan industri nasional.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.340 per per Dolar AS (USD).
Editor : Suriya Mohamad Said
