JAKARTA, iNewsSukabumi.id– Kabar baik datang dari sektor energi hijau Indonesia. Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Cicatih, yang dikelola oleh anak usaha PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI), baru saja menyelesaikan tahun 2025 dengan pencapaian yang membahagiakan.
Pembangkit yang mengandalkan kejernihan aliran sungai di Sukabumi ini mencatatkan produksi listrik tertinggi sejak pertama kali menyapa publik pada 2019.
Tahun 2025 menjadi saksi bagaimana alam dan teknologi bekerja harmonis. PLTM Cicatih berhasil menyalurkan energi bersih sebesar 37.679.000 kWh, sebuah lompatan sekitar 17,22% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol optimisme bagi masa depan energi terbarukan di tanah air.
Kesuksesan ini tidak lepas dari restu alam berupa debit air Sungai Cicatih yang terjaga dengan baik sepanjang tahun, dipadukan dengan pemeliharaan mesin yang penuh dedikasi.
"Pencapaian ini adalah buah dari efisiensi operasional yang konsisten serta ketersediaan air yang optimal di aliran Sungai Cicatih," ujar Sumarwoto, GM Renewable Energy dengan nada syukur. Tercatat, rata-rata produksi bulanan pun menyentuh angka tertingginya, yakni lebih dari 3,1 juta kWh dalam keterangan tertulis, Selasa 20 Januari 2026.
Berlokasi di Kecamatan Cicatih, Kabupaten Sukabumi, pembangkit berkapasitas 2 x 3,2 MW ini merupakan wujud nyata kepedulian RAIN Group terhadap lingkungan. Melalui PT Bias Petrasia Persada, perusahaan berkomitmen untuk terus menghadirkan listrik yang ramah lingkungan—tanpa polusi dan tanpa emisi gas rumah kaca.
Sejak beroperasi secara komersial (COD) pada Oktober 2019, PLTM Cicatih telah menjadi bagian penting dalam menyuplai energi bersih ke jaringan PLN melalui kerja sama jangka panjang. Keberhasilan memecahkan rekor produksi di tahun 2025 ini semakin memperkuat langkah perusahaan dalam mendukung transisi menuju Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Catatan Perjalanan Produksi (2019–2025): Sejak awal kehadirannya, PLTM Cicatih menunjukkan tren yang stabil dan cenderung meningkat. Mulai dari produksi perdana di tahun 2019, hingga mencapai puncaknya di tahun 2025, setiap kilowatt yang dihasilkan adalah kontribusi nyata bagi kelestarian bumi.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta