Menavigasi Arteri Energi: Menjaga Rupiah di Tengah Blokade Selat Hormuz
ACHMAD NUR HIDAYAT
EKONOM DAN PAKAR KEBIJAKAN PUBLIK UPN VETERAN JAKARTA
SEBERAPA besar potensi dampak blokade Selat Hormuz yang dilakukan Amerika Serikat sebagai balasan aksi Iran terhadap perekonomian global?
Pertanyaan ini kini menjadi pusat gravitasi kecemasan pasar keuangan dunia. Selat Hormuz bukan sekadar titik koordinat di peta, melainkan arteri karotis bagi sistem energi global yang memasok hampir sepertiga kebutuhan minyak dunia.
Jika jalur ini tersumbat oleh ketegangan geopolitik, dunia tidak hanya akan mengalami kenaikan harga energi, melainkan sebuah serangan jantung ekonomi massal.
Blokade ini menjadi masalah fundamental karena ia memutus rantai pasok energi saat ekonomi global masih tertatih-tatih menyeimbangkan inflasi dan pertumbuhan.
Gagasan utamanya adalah bahwa kita sedang menghadapi babak baru dalam tata dunia yang lebih transaksional dan multipolar, di mana stabilitas ekonomi menjadi sandera dari ego politik kekuatan besar.
Sejauh mana transmisi risikonya terhadap perekonomian dan dunia usaha di Indonesia? Risiko ini menjalar melalui jalur yang sangat cepat dan mematikan, yakni biaya produksi dan logistik.
Bayangkan ekonomi sebuah negara seperti sebuah mesin besar yang membutuhkan pelumas untuk terus bergerak. Ketika pelumas itu, yakni energi, tiba-tiba menjadi langka dan mahal akibat gangguan di Hormuz, mesin tersebut akan mulai berdecit dan melambat.
Bagi dunia usaha di Indonesia, transmisi ini bukan hanya soal harga bensin di SPBU, melainkan lonjakan biaya bahan baku industri yang sebagian besar masih harus diimpor menggunakan transportasi laut.
Editor : Suriya Mohamad Said