get app
inews
Aa Text
Read Next : Tensi Memanas! Iran Pamer Rudal di Teheran Saat AS Umumkan Gencatan Senjata Sepihak

Menavigasi Arteri Energi: Menjaga Rupiah di Tengah Blokade Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 | 12:48 WIB
header img
Blokade Selat Hormuz berpotensi picu krisis energi global, tekan ekonomi Indonesia lewat lonjakan biaya dan pelemahan rupiah, sehingga ancam inflasi. Foto ilustrasi Selat Hormuz/AP

Pelemahan Rupiah adalah cerminan dari fenomena pelarian modal menuju keamanan atau yang sering disebut sebagai arus aset aman. Dalam situasi badai di tengah laut, semua kapal kecil akan berusaha mencari pelabuhan yang paling kokoh, dan dalam dunia keuangan, pelabuhan itu adalah Dollar AS. 

Pelemahan ini bukan sekadar angka di layar monitor para trader, melainkan beban nyata bagi daya beli masyarakat. 

Apakah depresiasi Rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal atau domestik? Dominasi saat ini adalah faktor eksternal yang menyumbang porsi hingga delapan puluh persen karena ketegangan di Timur Tengah. 

Namun, kita tidak boleh menutup mata pada faktor domestik seperti permintaan musiman terhadap valuta asing untuk pembayaran utang dan dividen yang memperkeruh suasana.

Kombinasi krisis geopolitik dan pelemahan Rupiah sangat mungkin memicu inflasi impor di Indonesia. 

Inflasi impor terjadi ketika barang yang kita beli dari luar negeri menjadi lebih mahal karena harganya yang naik dan nilai tukar kita yang turun. 

Analoginya seperti membeli barang dengan harga yang sudah dinaikkan oleh toko, lalu kita membayar dengan mata uang yang nilainya sudah susut. Langkah paling efektif bagi Pemerintah dan Bank Indonesia saat ini adalah melakukan sinergi orkestrasi kebijakan. 

Bank Indonesia harus berada di garda terdepan menjaga stabilitas melalui intervensi pasar valuta asing yang agresif, sementara pemerintah harus memastikan bahwa belanja negara dilakukan secara efisien untuk menjaga kepercayaan investor.

Dalam situasi harga energi yang berpotensi naik, strategi menjaga subsidi tetap tepat sasaran tanpa membebani APBN harus segera dieksekusi. 

Kita perlu mempercepat digitalisasi distribusi BBM bersubsidi agar hanya kelompok rentan yang menikmatinya. Pada akhirnya, jika tensi geopolitik ini berkepanjangan, Indonesia harus mempercepat diversifikasi energi dan penguatan ketahanan ekonomi. 

Peta jalan idealnya adalah dengan mempercepat implementasi kebijakan biodiesel yang fleksibel untuk mengurangi ketergantungan pada solar impor. 

Kemandirian ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memiliki kemampuan untuk berdiri tegak di tengah goncangan global. 

Hari ini adalah saatnya bagi kita untuk membangun fondasi yang lebih kokoh melalui transisi energi dan penguatan industri domestik agar Indonesia bukan sekadar menjadi penumpang di kapal ekonomi dunia, melainkan nakhoda yang mampu membawa rakyatnya melewati badai paling ganas sekalipun.

Editor : Suriya Mohamad Said

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut