BANTUAN sosial seharusnya menjadi wajah negara yang paling manusiawi. Ia hadir di saat warga negara berada dalam kondisi rentan, kehilangan pekerjaan, menghadapi kemiskinan, atau tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mendasar.
Namun, masalah yang saat ini menjadi perhatian masyarakat terkait sistem desil dalam penentuan penerima bantuan sosial, menunjukkan satu persoalan serius, bagaimana jika negara salah membaca kehidupan warganya?
Negara memang membutuhkan klasifikasi agar masyarakat legible atau mudah dibaca, tetapi ketika penyederhanaan administratif dianggap identik dengan realitas social, kata James C. Scott, maka selanjutnya justru akan bermunculan masalah baru.
Hal itu menjadi penting saat muncul keluhan masyarakat yang merasa kondisi ekonominya sulit, tetapi tidak masuk kategori penerima bantuan hanya karena indikator tertentu dalam data menunjukkan bahwa mereka relatif mampu.
Salah satu persoalan yang disorot adalah penggunaan kondisi fisik rumah sebagai bagian dari indikator kesejahteraan. Di sinilah muncul sebuah pertanyaan, apakah rumah yang terlihat bagus dari luar selalu berarti pemiliknya mampu secara ekonomi?
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
