Alat Ukur Kesejahteraan
Sebuah rumah permanen dapat dibangun bertahun-tahun lalu ketika kondisi ekonomi keluarga masih baik. Rumah itu bisa jadi merupakan warisan orang tua. Bahkan, tidak sedikit keluarga yang memiliki rumah layak secara fisik tetapi hidup tanpa pekerjaan tetap, memiliki utang, menanggung anggota keluarga yang banyak, atau kehilangan sumber penghasilan.
Sebaliknya, seseorang dapat tinggal di rumah sederhana tetapi memiliki aset, pendapatan, dan kemampuan ekonomi yang cukup besar.
Karenanya, kemiskinan tidak dapat dibaca hanya dari indikator visual seperti dinding rumah, lantai keramik, kendaraan yang dimiliki, ataupun indikator visual lainnya. Kemiskinan adalah realitas yang jauh lebih kompleks. Ia sangat berkaitan dengan pendapatan, pengeluaran, utang, jumlah tanggungan keluarga, akses terhadap pekerjaan, kesehatan, pendidikan, hingga kerentanan menghadapi guncangan ekonomi.
Memastikan Keadilan
Penggunaan sistem desil memang dimaksudkan untuk membuat bantuan sosial lebih terarah. Pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan, secara prinsip, dapat membantu negara memprioritaskan kelompok yang paling membutuhkan. Namun, sistem yang secara statistik terlihat rasional belum tentu selalu menghasilkan keadilan bagi setiap individu.
Disinilah letak masalah klasik administrasi publik, dimana data dapat terlihat benar, tetapi keputusan yang dihasilkan belum tentu adil.
Negara tidak boleh terjebak pada apa yang disebut sebagai administrative reductionism, yaitu kecenderungan menyederhanakan kehidupan manusia menjadi angka, kategori, dan variabel.
Saat seorang warga hanya dilihat sebagai “Desil 5”, “Desil 6”, atau kategori tertentu dalam sebuah sistem, negara berpotensi kehilangan kemampuan untuk melihat manusia sebagai manusia dengan persoalan yang konkret.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
