Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Purbaya: Dampaknya ke Inflasi Sangat Terbatas
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah 17.000: Alarm Krisis Fiskal, Inflasi, dan Efisiensi Kerja

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:21 WIB
  • author SM Said
Rupiah 17.000: Alarm Krisis Fiskal, Inflasi, dan Efisiensi Kerja
Rupiah tembus Rp17.000 jadi alarm ekonomi: beban APBN naik, risiko inflasi merambat, dan dunia usaha bisa menekan biaya hingga efisiensi tenaga kerja. Foto Achmad Nur Hidayat/ist

Akhir Desember 2025 cadangan devisa Indonesia masih sekitar USD156,5 miliar. Pada akhir Januari 2026 turun menjadi USD154,6 miliar. Sebulan kemudian turun lagi menjadi USD151,9 miliar. Dalam dua bulan, ada penurunan bersih sekitar USD4,6 miliar. Secara statistik, Bank Indonesia memang tidak menyebut angka itu sebagai biaya intervensi murni, karena di dalamnya bercampur pembayaran utang luar negeri pemerintah, penerimaan negara, serta dinamika transaksi lain. Namun justru itulah persoalannya. Biaya mempertahankan kurs tidak pernah terlihat secara sederhana, padahal pasar tahu ada harga yang sedang dibayar.

Analogi yang paling mudah adalah bendungan air. Dari luar, bendungan tampak kokoh dan masih penuh. Tetapi ketika pintu air terus dibuka untuk menahan tekanan dari hulu, kita tidak bisa hanya melihat permukaan air lalu berkata semuanya aman. Yang lebih penting adalah apakah cadangan air itu terus terisi, atau justru terus berkurang karena beban pertahanan makin berat. Begitu pula dengan cadangan devisa. Besar secara nominal belum tentu longgar secara strategis.

Karena itu saya memandang cadangan devisa USD151,9 miliar relatif lemah jika ditempatkan dalam konteks pertahanan rupiah yang berkelanjutan. Bukan lemah dalam arti Indonesia sudah kehabisan amunisi. Namun lemah dalam arti ruang gerak BI tidak lagi seleluasa ketika tekanan global sedang ringan. BI masih punya instrumen intervensi berlapis, tetapi instrumen itu tidak efektif tanpa biaya. Makin sering dipakai, makin mahal ongkos pertahanannya.

Besarnya cadangan devisa tidak boleh menipu kita. Yang menentukan bukan hanya tebalnya amunisi, tetapi seberapa cepat amunisi itu harus dikeluarkan untuk menahan tekanan.

Ketika rupiah mahal bagi fiskal

Dari sisi fiskal, pelemahan rupiah adalah tagihan yang sering datang diam diam. Banyak yang beranggapan bahwa rupiah lemah dapat menguntungkan negara karena ada komponen penerimaan yang ikut meningkat. Itu tidak salah, tetapi tidak lengkap. Dalam praktik APBN, kenaikan pendapatan karena kurs yang lebih lemah sering kalah cepat dibanding lonjakan belanja.

Editor: Suriya Mohamad Said

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut