Rupiah 17.000: Alarm Krisis Fiskal, Inflasi, dan Efisiensi Kerja
ACHMAD NUR HIDAYAT
EKONOM & PAKAR KEBIJAKAN PUBLIK UPN VETERAN JAKARTA
KETIKA pelemahan kurs bukan lagi sekadar gejolak pasar, melainkan peringatan bahwa biaya pertahanan ekonomi makin mahal dan daya tahan kebijakan mulai diuji.
Apa arti rupiah yang pada awal pekan ini sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS, lalu sedikit menguat ke sekitar Rp16.869? Apakah ini sekadar fluktuasi pasar yang biasa, atau sudah menjadi pertanda bahwa daya tahan kebijakan kita mulai menipis?
Pertanyaan itu penting karena kurs bukan sekadar angka di layar dealing room. Kurs adalah cermin yang memantulkan kepercayaan pasar, daya saing ekonomi, biaya hidup masyarakat, dan beban fiskal negara. Ketika rupiah bergerak jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS, masalahnya bukan lagi soal simbolik. Masalahnya adalah siapa yang akan menanggung selisih itu, dan berapa lama negara mampu membayar harga untuk mempertahankan stabilitas.
Rupiah di level Rp16.869 sampai Rp17.000 bukan lagi sekadar gejolak sesaat, melainkan warning bahwa biaya pertahanan ekonomi makin mahal, sementara efektivitasnya makin terbatas.
Ketika angka 17.000 berubah dari batas psikologis menjadi alarm
Editor : Suriya Mohamad Said