Rupiah 17.000: Alarm Krisis Fiskal, Inflasi, dan Efisiensi Kerja
Kenaikan harga yang merambat seperti ini lebih berbahaya daripada lonjakan sesaat. Ia tidak selalu mengejutkan publik pada hari pertama, tetapi perlahan menggerus daya beli dan mempersempit ruang konsumsi rumah tangga. Bagi kelompok menengah bawah, inflasi yang dipicu pelemahan kurs dapat terasa seperti kebocoran kecil di perahu. Pada awalnya tampak sepele, tetapi bila terus dibiarkan, akhirnya justru menenggelamkan.
Dunia usaha di persimpangan: menaikkan harga atau memangkas manusia
Pelemahan rupiah paling berat dirasakan oleh perusahaan yang pendapatannya dalam rupiah tetapi beban produksinya bergantung pada impor. Dunia usaha Indonesia masih sangat terkait dengan bahan baku, barang modal, mesin, komponen, dan energi yang sensitif terhadap kurs. Saat dolar menguat, tekanan tidak berhenti pada biaya impor semata, tetapi menjalar ke arus kas, ekspansi, dan keputusan ketenagakerjaan.
Dalam situasi seperti ini, perusahaan biasanya menghadapi tiga jalan. Pertama, menaikkan harga jual, tetapi risikonya permintaan melemah. Kedua, menerima penurunan margin laba, tetapi ini tidak mungkin berlangsung lama. Ketiga, melakukan efisiensi internal. Di atas kertas istilah efisiensi terdengar netral dan rasional. Tetapi di lapangan, efisiensi sering berarti pembekuan rekrutmen, pengurangan jam kerja, pemangkasan lembur, penundaan ekspansi, pengurangan tenaga kontrak, hingga PHK bertahap.
Inilah ancaman yang paling perlu dibaca dari rupiah di level sekarang. Bukan semata soal headline pasar, melainkan perubahan perilaku dunia usaha. Ketika perusahaan mulai defensif, investasi tertunda. Ketika investasi tertunda, penciptaan kerja melambat. Ketika penciptaan kerja melambat, konsumsi rumah tangga juga terancam. Lingkaran ini bisa menjadi spiral yang melemahkan ekonomi dari dalam.
Editor : Suriya Mohamad Said