get app
inews
Aa Text
Read Next : Gara-gara Harga BBM Naik, Inflasi Diproyeksi Tembus 7,5 Persen 

Rupiah 17.000: Alarm Krisis Fiskal, Inflasi, dan Efisiensi Kerja

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:21 WIB
header img
Rupiah tembus Rp17.000 jadi alarm ekonomi: beban APBN naik, risiko inflasi merambat, dan dunia usaha bisa menekan biaya hingga efisiensi tenaga kerja. Foto Achmad Nur Hidayat/ist

Di ruang rapat korporasi, rupiah yang lemah sering diterjemahkan ke dalam satu kata yang terdengar dingin: efisiensi. Di balik kata itu, ada rekrutmen yang dibekukan, lembur yang dipangkas, dan pekerjaan yang pelan pelan menghilang.

Solusi: jangan hanya jual dolar, perbaiki fondasi kepercayaan

Karena itu, menjawab persoalan rupiah tidak cukup hanya dengan intervensi valas. Intervensi memang perlu untuk meredam kepanikan dan menjaga volatilitas agar tidak liar. Tetapi menjadikan intervensi sebagai andalan utama sama saja dengan memberi obat penurun panas kepada pasien yang sumber infeksinya belum disembuhkan. Demam mungkin turun sesaat, tetapi penyakit dasarnya tetap bekerja.

Solusi yang lebih mendasar harus diarahkan pada penguatan fondasi kepercayaan ekonomi. Pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal dengan lebih meyakinkan, mengurangi ketergantungan pada impor energi dan bahan baku strategis, memperkuat daya saing industri domestik, dan memastikan tidak ada sinyal kebijakan yang membingungkan pasar. Pada saat yang sama, Bank Indonesia perlu menjaga kredibilitas dengan komunikasi yang lebih jujur bahwa pertahanan kurs memang berbiaya besar dan tidak dapat dijalankan tanpa batas.

Intinya, rupiah di level Rp16.869 sampai Rp17.000 harus dibaca sebagai warning serius. Dari sisi fiskal, level ini sudah mahal karena berada di atas asumsi APBN Rp16.500, dengan potensi pemburukan defisit sekitar Rp3 triliun pada Rp16.869 dan sekitar Rp4 triliun pada Rp17.000. Dari sisi moneter, cadangan devisa USD151,9 miliar memang belum habis, tetapi tren penurunannya menunjukkan bahwa pertahanan rupiah tidak murah, tidak sederhana, dan tidak berkelanjutan bila hanya mengandalkan intervensi. Dari sisi dunia usaha, kurs setinggi ini mendorong biaya, menekan margin, dan membuka jalan bagi gelombang efisiensi tenaga kerja.

Jadi, pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah Bank Indonesia masih mampu menahan rupiah. Pertanyaan yang lebih jujur adalah sampai kapan harga pertahanan itu sanggup dibayar, dan apakah kita rela terus membayar mahal hanya untuk menunda pembenahan yang seharusnya dilakukan sekarang juga.

Editor : Suriya Mohamad Said

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut