Dalam penyidikan, KPK juga menemukan adanya penggunaan sejumlah kode khusus untuk menyamarkan aliran dana hasil pemerasan. Salah satu istilah yang digunakan adalah “malaikat”, yang diduga merujuk kepada pejabat tinggi di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi maupun Kementerian Imipas.
Selain itu, para pelaku juga menggunakan istilah yang diambil dari formasi grup musik, seperti vokalis, gitaris, backing vocal, hingga koreografer untuk menggambarkan pihak-pihak yang menerima bagian dari uang tersebut.
“Kode lainnya menggunakan istilah pembayaran konser grup band, seperti vokalis, gitaris, backing vocal, dan koreografer yang merepresentasikan aliran uang kepada pihak tertentu,” kata Setyo.
KPK menduga uang hasil pemerasan itu tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga dialihkan ke berbagai bentuk investasi dan kegiatan usaha guna menyamarkan asal-usul dana.
“Uang tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi, pembelian aset, maupun kegiatan usaha seperti mendirikan perusahaan towing sebagai upaya menyamarkan penerimaan uang tersebut,” tuturnya.
Penyidik saat ini masih terus menelusuri aliran dana, aset yang diduga dibeli dari hasil kejahatan, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus yang menjadi salah satu operasi tangkap tangan terbesar di lingkungan keimigrasian tersebut.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
